Aksi Baik, tapi Masih Ada dengan Kurang Disiplin

Aksi Baik, tapi Masih Ada dengan Kurang Disiplin

KONTAN. CO. ID –  JAKARTA. Narasumber focus group discussion (FGD) Kontan berjudul “Penerapan 3M pada Kegiatan Religi dan Tempat Ibadah” sama-sama sepakat, masih saja ditemukan umat yang mengabaikan “menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker” nama lain 3M. FGD berlangsung Jumat, (13/11) yang lalu.

Para narasumber berisi dari Kevin Haikal , Staf Khusus Bidang Pola Masyarakat, Sosial, Keagamaan, dan Komunikasi Publik, Kementerian Agama Republik Nusantara, Romo Adi Prasojo , Sekeretaris Jenderal Keuskupan Besar Jakarta, serta Esa Aryo Kuncoro , Perwakilan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang membawahi Bidang ‘Idarah , ‘Imarah , dan Ri’ayah .

Kepada mereka dengan masih “bandel” karena tidak menerapkan 3M, antara lain melalui keterangan lisan, penjelasan, pendekatan persuasif, mengikuti memberikan masker kepada seseorang yang tidak memakai di linkungan tempat ibadah. Kategori orang “bandel” ini, masih dijumpai karena sulitnya membawa seluruh masyarakat sadar dan berpartisipasi, terutama yang berada “akar rumput”.

Pengabaian terjadi lantaran informasi dengan benar tidak sepenuhnya sampai di kalangan “akar rumput”. Kevin menjelaskan, setidaknya ada dua klaster yang menjadi fokus perhatian, karena di dalam dua klaster ini muncul peristiwa terkonfirmasi positif, yaitu klaster pondok dan klaster kegiatan keagamaan.

Ada sekitar 62 pesantren di 15 provinsi, dengan santri yang terkonfirmasi positif sebanyak 4. 686 karakter, dengan 3. 968 terkonfirmasi telah sembuh, 718 dalam perawatan, dan satu orang meninggal karena tersedia penyakit bawaan di paru-paru. Terkait dengan klaster kegiatan keagamaan, pemerintah lebih gencar menyosialisasikan protokol kesehatan tubuh karena pada klaster ini betul berhubungan dengan tingkat awareness klub.

“Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah untuk menyalahi penularan di klaster kegiatan keyakinan adalah dengan pendekatan sosiologis & kekeluargaan, ” kata Kevin.

Saran dan Masukan untuk Pemerintah

Beruntunglah, jika sedang ada individu yang “bandel”, seluruh proses dan implementasi 3M telah dilaksanakan oleh aparatur lembaga keagamaan dengan baik. Adi Prasojo mengantarkan, kampanye protokol kesehatan 3M yang dilakukan oleh pemerintah sangat indah dan intensif kepada kalangan pemuka agama.

“Komunikasi dan sosialisasi dengan dilakukan, baik oleh pemerintah induk, pemerintah daerah dan Kementerian Petunjuk dapat diterima dengan baik sebab para jemaat Gereja. Bahkan, zaman keluar himbauan dari pemerintah buat menutup sementara tempat ibadah di dalam masa awal pandemi, paling tidak ada 68 gereja di provinsi Jabodetabek yang ditutup dan disterilisasi sesuai dengan himbauan dari pemerintah tersebut, ” jelasnya.

Esa Aryo Kuncoro juga sependapat. Menurutnya, aksi 3M sudah diterima dengan elok oleh jamaah. Selanjutnya, tinggal posisi aktif pengurus masjid untuk selalu mengingatkan jamaah agar selalu peraturan menerapkan protokol kesehatan.

“Hingga pada masa transisi, imbauan Pemerintah tentang protokol kesehatan di lingkungan rumah ibadah juga dapat diterima secara baik oleh jamaah masjid, ” tutur Esa.

Kevin menambahkan, Gajah Agama secara khusus menyiapkan sistem terkait tata cara peribadatan di dalam masa pandemi Covid-19. Aturan itu tertuang melalui surat edaran yang dikirimkan kepada para pemuka agama.

Pada intinya, aturan ini mengatur agar pelaksanaan peribadatan tidak membuat kerumunan dan pengumpulan massa. Kementerian Agama juga menekankan bahwa setiap umat beragama harus mengutamakan kesehatan tubuh dan kebersihan pada saat melakukan kegiatan peribadatan sesuai dengan protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh BNPB dan juga Kementerian Kesehatan.

Dibanding berbagai dinamika diskusi, berikut tersebut masukan kepada Pemerintah dari pemuka agama dan pengurus rumah ibadah:

1. Pemerintrah tidak bisa hidup sendiri. Pemerintah perlu dibantu para-para tokoh dan pemuka agama, tokoh masyarakat sipil, dan seluruh elemen masyarakat. Karena itulah, Pemerintah kudu merangkul dan mengayomi para tipu agama dan masyarakat sipil. Selain itu, peran pemuka agama buat mendukung upaya pencegahan penularan COVID-19 harus ditingkatkan karena mereka memiliki tanggung jawab kepada kemanusiaan;

2. Pemerintah diharapkan bisa memberikan bantuan APD dan perlengkapan sanitasi pada pengurus rumah ibadah. Di bibir itu, perlu ada pendekatan yang lebih intens lagi kepada para pengurus rumah ibadah terutama pada daerah, sehingga update informasi bisa diterima dengan baik.

Artikel tersebut merupakan poin rangkuman dan tak akan pernah bisa menggantikan momen FGD seutuhnya. Anda bisa memasukkan dan menonton proses diskusi FGD “Penerapan 3M pada Kegiatan Kepercayaan dan Tempat Ibadah” secara sempurna di KONTAN TV pada link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=GBj4s41N_GY&t=26s.

gong2deng –>

Editor: Andri Indradie