Penyelidikan Penyebaran COVID-19 di Jerman dengan Dihasilkan dari Perjalanan Tunggal

Sumber: DW. com | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN. CO. ID – DW. Jurnal The Lancet Infectious Diseases memperingatkan bahwa upaya ijmal untuk menekan laju penyebaran COVID-19 masih menghadapi “tantangan besar, ” merujuk pada studi kasus di Bayern, Jerman, yang mengkonfirmasi bahwa beberapa pasien dinyatakan positif COVID-19 sebelum munculnya gejala atau masa gejala itu baru muncul.

Penerbit medis yang berbasis di London ini berfokus pada kasus COVID-19 pertama Eropa yang dilaporkan di dalam Januari lalu. Mereka menjelaskan tentang bagaimana virus SARS-CoV-2 menyebar lantaran seorang kolega asal Cina dengan mengunjungi München, Jerman, sampai ke rekan kerja yang lain di perusahaan Webasto, dan kemudian ke rumah tangga mereka.

Jurnal itu menuliskan, tes dan wawancara yang mayoritas dilakukan oleh ahli epidemiologi dan otoritas kesehatan Jerman dimulai dari “Pasien Nol”, yakni awak Cina yang mengunjungi Jerman buat alasan pekerjaan. Kemudian dilanjutkan dengan 16 kasus berikutnya yang menonjol dari empat “generasi” penularan secara gejala ringan dan tidak spesifik, serta pelacakan terhadap “semua anak obat yang telah pulih sepenuhnya” melalui karantina.

Para penulis, termasuk kontributor dari Cina dan Spanyol, menyimpulkan bahwa masa inkubasi virus yang berpotensi mematikan – antara infeksi dan gejala awal – adalah empat hari.

Infeksi yang ‘tersembunyi’

Studi ini menyebutkan bahwa transmisi virus terhadap satu kasus (mungkin lima lebih) kemungkinan telah berlaku sebelum munculnya gejala. Selain itu, penularan virus dalam empat kasus lain disebut terjadi di hari gejala mulai muncul, dan sisanya setelah gejala semakin terlihat sahih.

Pola penularan yang tersembunyi itu disebut “substansial” dan mengindikasikan kemungkinan munculnya “tes negatif palsu”. Selain itu, hal ini juga membuktikan bahwa sejatinya infeksi virus telah terjadi meski baru bisa dibuktikan setelahnya.

Penelitian di Bayern cocok dengan bukti lain

Para peneliti infektiologi dalam Klinik Universitas Cologne [Uniklinik Köln] menjelaskan bahwa data daripada “Pasien 0” dalam studi The Lancet, cocok dengan hasil lain yang menegaskan bahwa penularan pra-gejala, diperkirakan terjadi hingga setengah dari semua kasus infeksi.

“Ini ialah salah satu kendala paling betul-betul untuk mengendalikan pandemi, ” sebutan tim peneliti Universitas Cologne, seraya menambahkan: “teknologi baru seperti penggunaan pelacakan kontak sangat dibutuhkan untuk secara efektif mengendalikan pandemi. ”

“Semua negara yang telah menerapkan penelusuran kontak ketat adalah yang paling efektif dalam menjaga total infeksi baru tetap kecil, ” kata Annelies Wilder-Smith dari London School of Hygiene & Tropical Medicine (LSHTM).

Ia merujuk di negara-negara seperti Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, Thailand, Vietnam & Singapura, yang ia sebut sebagai “contoh nyata negara-negara yang tak pelit terhadap sumber daya & teknologi untuk melakukan penelusuran relasi yang teliti. Semua berhasil. ”

Orang di daerah bapet lebih rentan terinfeksi

Studi lain yang diterbitkan pada Jumat (15/5) oleh The Lancet, yang dilakukan oleh para-para peneliti dari University of Oxford, menemukan bahwa orang yang letak di daerah paling miskin dalam Inggris, berpotensi empat kali bertambah besar terinfeksi COVID-19 dibanding itu yang tinggal di lingkungan kaya.

Studi Oxford itu mengamati lebih dari 3. 600 hasil ulangan COVID-19 dari program nasional serta menemukan bahwa faktor usia dan penyakit hati kronis, meningkatkan jalan seseorang terinfeksi positif COVID-19.

Peneliti menemukan bahwa di antara sampelnya, yaitu 660 orang yang letak di daerah yang paling bangsat, sebanyak 29, 5 persen dinyatakan positif COVID-19, dibandingkan dengan mereka yang tinggal di daerah yang lebih kaya, hanya 7, 7 persen.


–> Video Pilihan gong16deng –>
VIRUS CORONA

gong16deng –>